Rahasia Kehebatan Sepakbola Jerman Lewat Joachim Loew

Jakarta – Deutschland, Deutschland uber alles. Uber alles in der welt. (Jerman, Jerman di atas segalanya. Segala yang ada di dunia).
Ungkapan di atas merupakan bunyi dari paragraf awal alinea pertama lagu kebangsaan Jerman, Lied der Deutschen. Dari situ sudah cukup terlihat bahwa “der Deutschen” alias para orang Jerman, ingin meyakinkan pada dunia bahwa Jerman (ingin) unggul dalam segala hal.

Di sepakbola, dalam lima tahun terakhir, sepakbola Jerman kembali menunjukkan kedigdayaannya. Terbaru, Jerman berhasil menjuarai Piala Konfederasi FIFA 2017 setelah mengalahkan Chile di final. Padahal Jerman tidak menurunkan skuat terbaiknya pada ajang antarjuara tingkat konfederasi di seluruh dunia itu. Mayoritas pemain di skuat Jerman merupakan pemain dengan minim caps; tak ada nama-nama beken seperti Manuel Neuer, Mesut Oezil, Marco Reus, Mats Hummels, Sami Khedira, Toni Kroos, Thomas Mueller, dan masih banyak lagi pemain lain yang membawa Jerman menjadi juara Piala Dunia pada 2014 namun tak dibawa pada perhelatan Piala Konfederasi 2017.
Sebelum menjuarai Piala Konfederasi 2017, dua hari sebelumnya, skuat Jerman U-21 pun meraih kampiun Piala Eropa UEFA U-21. Di final, skuat Jerman muda mengalahkan Spanyol U-21.

Dengan para pemain muda bertalenta, dalam dua hari Jerman seolah dengan lantang berteriak “DeutschlandDeutschland uber alles. Uber alles in der welt”. Para pemain muda tersebut tentu bisa menjadi aset bagi masa depan Jerman setidaknya hingga 10 tahun ke depan.

Melihat ini, banyak yang memuji keberhasilan pengembangan usia muda yang dilakukan Jerman. Tak sedikit juga yang berpendapat jika keberhasilan Jerman menelurkan banyak talenta muda berbakat ini berkat revolusi federasi sepakbola Jerman (DFB) yang dilakukan usai kegagalan Jerman di Piala Eropa 2000.

Namun mengatakan akar keberhasilan Jerman hanya sebatas dari kesuksesan pengembangan usia muda saja, khususnya setelah tahun 2000, ternyata tidak sepenuhnya benar. Bahkan pengembangan usia muda Jerman bukanlah fondasi utama Jerman dalam meraih kejayaan saat ini. Karena sebenarnya, sepakbola Jerman sukses karena mereka merupakan der Deutschland alias “Para Orang Jerman” itu sendiri.

Orang Jerman, pada umumnya, memang memiliki mental pemenang pada setiap individu masyarakatnya, seperti yang ditunjukkan oleh Joachim Loew.
Sepakbola Jerman Merupakan Salah Satu yang Terbaik Sejak Dahulu Kala`
“Benar, tapi tidak sepenuhnya benar,” ujar Timo Scheunemann, pelatih Indonesia berdarah Jerman, ketika kami minta menanggapi soal kesuksesan Jerman berkat revolusi usai Piala Eropa 2000. “Sebelum gagal tahun 2000, Jerman sudah jadi negara [sepakbola] papan atas.”
“Itu (revolusi 2000) sebenarnya terlalu berlebihan, di-blow up media karena setelah terseok-seok di 2000 itu Jerman berprestasi (runner-up) di 2002. Padahal sebelum itu Jerman sudah banyak prestasi,” tambahnya.

Apa yang dikatakan Timo tidaklah salah. Sebelum menempati posisi juru kunci grup pada Piala Eropa 2000, Jerman sudah mengoleksi banyak trofi bergengsi. Sebelum juara Piala Dunia pada 2014, Jerman tercatat enam kali melangkah ke final Piala Dunia dengan mengoleksi tiga trofi Piala Dunia (1954, 1974, dan 1990) dan tiga kali runner-up (1966, 1982, dan 1986).

Jerman juga tercatat tiga kali berlaga di perebutan ketiga Piala Dunia, sekali kalah. Di Piala Eropa, Jerman pun sudah enam kali melaju ke final; tiga kali menang, tiga kali kalah. Kekalahan ketiga di final Piala Eropa pun baru terjadi pada 2008.

Maka jika ditotal, sebelum kegagalan pada 2000, Jerman sudah punya tiga trofi Piala Dunia dan tiga trofi Piala Eropa. Sementara dalam 17 tahun ke belakang (2000-2017), Jerman “hanya” satu kali menjuarai Piala Dunia dan satu kali juara Piala Konfederasi, ditambah satu kali peringkat dua Piala Dunia dan satu kali peringkat kedua Piala Eropa.

Bandingkan misalnya dengan kejayaan Jerman pada tahun 1980-90an (saat masih memakai nama Jerman Barat). Dalam 17 tahun setelah 1980, Jerman dua kali juara Piala Eropa, satu kali juara Piala Dunia, dua kali peringkat kedua Piala Dunia dan dua kali peringkat kedua Piala Eropa. Tujuh kali Jerman masuk final pada era 80-90an, jumlah tersebut lebih banyak dari era setelah kegagalan 2000 di mana Jerman hanya empat kali melangkah ke final, itu pun satu di antaranya bertajuk Piala Konfederasi, bukan Piala Dunia atau Piala Eropa yang jauh lebih bergengsi.

Jerman sedari dulu punya banyak pemain hebat, khususnya pada 80-90an. Lotthar Matthaeus, Juergen Klinsmann, Rudi Voeller, Karl-Heinz Rummenigge, Bodo Illgner, Pierre Littbarski, Felix Magath, Andreas Brehme, hingga Oliver Kahn merupakan contoh dari sedikit pemain yang sambung-menyambung menjaga kualitas timnas Jerman dari Piala Eropa ke Piala Dunia setiap dua tahunnya sejak 1980.
Sebelum itu, tentu Jerman juga melahirkan legenda sepakbola macam Franz Beckenbauer, Gerd Mueller, hingga era Sepp Maier atau Berti Vogts.

Hal itu menunjukkan bahwa sepakbola Jerman memang sudah cukup istimewa setidaknya sejak 35 tahun silam. Adapun kegagalan pada Piala Eropa 2000, juga pada Piala Eropa 2004, hanya merupakan kerikil dalam rentetan prestasi yang sudah diraih Jerman yang meraih trofi Piala Dunia pertamanya pada 1954, yang menurut Timo sebagai keturunan Jerman sendiri hal itu terlalu dibesar-besarkan.

Memang ada investasi besar-besaran pada akademi dan pembinaan usia muda. Namun sebenarnya itu terjadi lebih karena sepakbola modern yang terus berkembang. Kesebelasan-kesebelasan Jerman menjalankan bisnis dengan baik sehingga bisa memaksimalkan bakat-bakat alami pesepakbola Jerman.

Pada sebuah wawancara Loew pernah menyatakan bahwa Jerman sudah punya banyak pemain bertalenta sejak bertahun-tahun lalu. Dengan klub-klub lebih banyak berinvestasi pada fasilitas latihan, para pemain muda pun mulai berlatih dengan lebih baik.

Loew tahu betul bahwa Jerman merupakan kesebelasan besar sejak tahun 1950-an hingga akhir 90an. Generasi baru saat ini hanya melanjutkan apa yang sudah menjadi pondasi Jerman yang kini merupakan salah satu kesebelasan tersukses di dunia. Memahami persepsi ini penting agar tidak memandang sebelah mata kekuatan Jerman sebelum era 2000an seperti yang banyak disinggung banyak orang.