Peneliti Jerman Berhasil Rekayasa Embrio Hibrida Badak Putih Utara

Jakarta – Ahli zoologi Berlin sukses merekayasa embrio badak hidup dari sperma badak putih utara. Terobosan ini memupuk harapan upaya menyelamatkan spesies langka yang hampir punah ini.

Setelah Sudan, badak putih utara terakhir mati di Kenya pada Maret 2018, yang tersisa hanya dua betina dari subspesies yang dulu kerap ditemui di Afrika Tengah dan Timur. Keduanya keturunan Sudan dan hidup di Kenya, namun dianggap tidak subur. Tapi sekarang, harapan baru muncul bahwa kepunahan spesies masih bisa dicegah.

Sebuah tim yang dipimpin oleh dokter hewan Thomas Hildebrandt dari Institut Leibniz untuk Penelitian Kebun Binatang dan Satwa Liar (IZW) di Berlin telah berhasil merekayasa embrio hidup di laboratorium dari sperma beku badak putih utara dan sel telur dari badak putih selatan. Ini adalah subspesies yang paling dekat, dengan lebih dari 20.000 badak selatan hidup di alam liar.

Meskipun embrio hibrida tersebut bukan murni badak putih utara, para peneliti mampu menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa pembentukan embrio semacam itu dimungkinkan. Para peneliti berhasil dalam percobaan sekitar 20 kali.

Untuk menghasilkan anak sapi badak yang sehat, sel telur yang dibuahi harus ditanamkan ke betina badak yang sehat dari usia reproduktif. Para ilmuwan berencana mengambil sel telur dari betina badak utara yang masih hidup di musim gugur tahun ini, dan menyuburkan mereka dengan sperma yang disimpan dari spesies yang sama.

Mereka kemudian berniat menanamkan oocyte (tempat pertumbuhan sel telur – Red) ke betina badak selatan yang subur pada awal 2019. Para peneliti harus berjuang dengan sperma berkualitas buruk. Namun demikian, pembuahan berhasil dengan langsung menyuntikkan sel sperma ke dalam sel telur, sebuah proses yang dikenal sebagai “injeksi sperma intracytoplasmic” (ICSI). Metode ini juga digunakan dalam pengobatan reproduksi manusia.

Para peneliti Leibniz Institute didukung oleh perusahaan Italia, Avantea, yang mengkhususkan diri dalam pemupukan ternak dan kuda. Para ilmuwan mempublikasikan hasil mereka di jurnal Nature Communications.

Apakah badak putih utara dapat diselamatkan dalam jangka panjang masih belum jelas. Karena sperma berasal dari beberapa badak, keragaman genetik terbatas dapat membahayakan kesehatan populasi badak putih utara yang baru lahir. Pada kolam gen yang lebih kecil, inbreeding tersebut biasanya mengarah ke tingkat gangguan resesif yang lebih tinggi dengan tingkat kematian yang lebih tinggi dan kesehatan keseluruhan yang lebih buruk.

Inbreeding juga menyebabkan tingkat keguguran yang lebih tinggi dan penurunan kesuburan pada keturunan. Untuk mencoba dan mengatasi masalah ini, para ilmuwan bekerja secara paralel pada teknologi sel induk untuk menumbuhkan sperma dan oocyte dari sel-sel tubuh badak yang diawetkan.

Namun bahkan dengan teknologi sel induk, kesuksesan tidak bisa dijamin. Seperti dalam percobaan kloning, keguguran dan kematian bisa terjadi. Upaya sebanding yang melibatkan pengembangbiakan ibex Iberia, yang punah pada tahun 2000, gagal. Seekor hewan mati karena malformasi paru-paru hanya beberapa menit setelah lahir.

 

sumber: detik.com
Select Language >>