ARTIKEL

Jerman Akan Hentikan Penggunaan Batu Bara, Ini Alasannya

  1. Mengapa penggunaan batu bara perlu dihentikan?

Sejak awal industrialisasi, suhu bumi telah meningkat 1 derajat Celcius. Salah satu penyebab utamanya adalah karbon dioksida (CO2), yang dihasilkan dari proses pembakaran batu bara, minyak dan gas. CO2 kemudian terakumulasi di atmosfer bumi, menimbulkan efek rumah kaca, yang berujung kepada terjadinya pemanasan global.

Jika kita terus menggunakan bahan bakar fosil ini, suhu bumi diproyeksikan akan naik sekitar 4 derajat Celcius pada akhir abad ini dan akan naik lebih dari 7 derajat Celcius pada tahun 2200. Dengan kenaikan suhu bumi yang berlangsung secara terus menerus dikhawatirkan dapat mengancam keberlangsungan peradaban.

Diratifikasinya Perjanjian Paris 2015 oleh 55 negara di seluruh dunia, menjadi salah satu upaya untuk mencegah suhu bumi naik secara drastis. Dalam perjanjian tersebut disepakati bahwa suhu bumi tidak boleh naik di atas 2 derajat, atau lebih baik lagi 1,5 derajat.

Tetapi untuk mencapai target di atas, berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dan badan-badan PBB lainnya memperingatkan agar negara-negara mulai melakukan langkah-langkah konkret sesegera mungkin. Pada tahun 2030, emisi gas rumah kaca global perlu dikurangi setengahnya, dan mencapai netral karbon alias nol emisi pada tahun 2050.

Para ahli klimatologi berpendapat bahwa penghentian produksi CO2 secara bersama-sama jauh lebih murah serta aman dalam upaya menekan emisi gas rumah kaca alih-alih mengembangkan teknologi untuk mengeluarkan gas rumah kaca dari atmosfer bumi. Hal tersebut diyakini membutuhkan teknik yang kontroversial dan mahal.

  1. Mengapa fokus pada batubara dan bukan pada bahan bakar fosil lainnya?

Hasil pembakaran batu bara diyakini jauh lebih merusak kondisi iklim daripada minyak dan gas. Terlebih lagi pasokan listrik saat ini sudah mulai banyak dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga surya maupun angin.

Menurut Dewan Penasihat Jerman untuk Lingkungan (SRU), pembangkit listrik tenaga batu bara terakhir yang dimiliki Jerman dapat ditutup pada tahun 2033 dan dengan cepat beralih ke energi terbarukan. “Kami mungkin masih akan mencapai target 2 derajat. Dan menutup pembangkit listrik tenaga batubara tidak akan mengganggu pasokan listrik,” begitu bunyi pernyataan SRU.

Namun, beralih menggunakan energi terbarukan sesegera mungkin harus dilakukan jika ingin memenuhi target 1,5 derajat Celcius.

  1. Apa yang sebenarnya dilakukan komisi batubara Jerman?

Pada 2010 pemerintah Jerman mencanangkan target untuk mengurangi gas rumah kaca. Pada 2015, para pemimpin negara berkumpul di Paris, Prancis, untuk menetapkan tujuan yang lebih ambisius yakni membatasi pemanasan global, tidak lebih 1,5 – 2 derajat Celcius.

Jerman merupakan salah satu negara yang ikut meratifikasi perjanjian terebut. Tetapi hingga kini Jerman belum meningkatkan upaya-upaya perlindungan iklim untuk mendukung apa yang disepakati di Paris.

Pada Juni 2018, pemerintah Jerman membentuk Komisi Pertumbuhan, Perubahan Struktural, dan Ketenagakerjaan. Tugasnya adalah mempersiapkan pengajuan proposal untuk mengatasi permasalahan emisi karbon, perlindungan iklim, dan juga memberikan arahan untuk wilayah yang paling terkena dampak penghentian penggunaan batu bara.

Terdapat sekitar 20 ribu orang bekerja di industri lignit Jerman. Lignit atau batu bara coklat merupakan jenis batu bara yang paling rendah kualitasnya. Di atasnya ada batu bara jenis sub-bituminous, bituminous, dan antrasit. Sebanyak 15 ribu orang bekerja di tambang terbuka dan lima ribu orang lainnya bekerja di pembangkit listrik tenaga lignit. Tambang batu bara terakhir di Jerman sudah ditutup pada tahun 2018, tetapi lebih dari lima ribu orang masih bekerja di pembangkit listrik tenaga batu bara.

Penggunaan batu bara di Jerman berangsur-angsur berkurang dari tahun ke tahun. Pada tahun 1960 tercatat 500 ribu orang bekerja di tambang batu bara jenis antrasit, sementara 150 ribu orang bekerja di pertambangan batu bara jenis lignit.

Perubahan ini juga tercermin dalam meningkatnya jumlah karyawan di sektor energi terbarukan. Pada tahun 2016, diperkirakan sekitar 280 ribu orang bekerja di sektor ini.

Baca juga: Gerakan Global Tinggalkan Energi Batubara Demi Perlindungan Iklim

  1. Seberapa mahal penghentian penggunaan batu bara di Jerman?

Negara-negara bagian di Jerman yang bergantung dengan industri batu bara menuntut kompensasi dari pemerintah untuk membiayai perubahan struktural ini. Komisi batu bara Jerman merekomendasikan agar pemerintah memberikan bantuan senilai 40 miliar euro atau setara dengan 620 triliun rupiah kepada wilayah-wilayah yang terkena dampak selama beberapa tahun ke depan. Itu berarti subsidi rata-rata 2 juta euro atau 31 miliar rupiah per pekerjaan hilang di sektor ini.

Bantuan dana tersebut akan digunakan sebagai bentuk pertanggungjawaban sosial pemerintah terhadap nasib para pekerja, seperti penyerapan tenaga kerja baru, pembangunan proyek-proyek infrastruktur baru, serta kemungkinan memberikan kompensasi kepada perusahaan-perusahaan yang terkena dampak akibat penutupan ini.

Jerman menargetkan untuk menghentikan penggunaan batu bara sepenuhnya di tahun 2038 mendatang.

Penghentian penggunaan batu bara di Jerman dinilai dapat menghemat pengeluaran negara tersebut dikarenakan polusi udara yang akan berkurang secara signifikan. Menurut Badan Lingkungan Jerman, tahun lalu saja emisi polusi udara dari pembangkit listrik tenaga batu bara diprediksi menyebabkan kerugian 150 miliar euro atau setara dengan 2.325 triliun rupiah dalam kerusakan jangka panjang.

Konsekuensi lain dari perubahan iklim yaitu peningkatan cuaca ekstrem, sudah mulai dirasakan dan sebagian besar akan ditanggung oleh generasi muda.